RSS

Arsip Penulis: mediaeksekutif

Tentang mediaeksekutif

media eksekutif merupakan salah satu departemen yang terdapat dalam organisasi BEM FKIP yang memiliki tugas menyampaikan informasi-informasi seputar kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh BEM, kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh kampus putih.

Pemuda dan pendidikan

“PEMUDA DAN PENDIDIKAN”

Pentingnya pendidikan bagi tiap individu tidak perlu lagi diragukan. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad Saw. secara implisit berbicara tentang hal ini. “Iqra” (wahyu pertama tersebut) yang berarti “bacalah”; menjelaskan bahwa tiap individu secara fitrah membutuhkan sesuatu yang bisa membuat hidupnya lebih berarti. Hal ini tak lain didapat dengan membaca. Membaca adalah pangkal dari semua ilmu. Ilmu adalah bagian dari pendidikan. Mengingat pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan pada zaman globalisasi ini, maka tiap individu harus selalu berusaha untuk mengisi hidupnya dengan ilmu pengetahuan. Karena berangkat dari situlah peradaban suatu bangsa ditulis.

Kedudukan seorang yang berpendidikan dengan yang tidak berpendidikan di hadapan Tuhan dan di mata masyarakat sangat berbeda dan tidak sama. Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. sangat memperhatikan masalah ini. Hal ini tercermin dari banyaknya ayat al-Qur’an yang berbicara tentang urgensi pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam kehidupan. Termasuk hadits Nabi Saw.—tentang pendidikan maupun ilmu pengetahuan—yang seringkali dijadikan sebagai dalil oleh para ulama dalam ceramah-ceramahnya di setiap acara yang bersifat masif.

Berkaitan dengan pendidikan, pemuda memegang peran penting di dalamnya. Ini disebabkan karena dialah pemegang tongkat estafet perjuangan suatu bangsa. Pendidikan dan pertumbuhan seorang pemuda sangatlah tergantung oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya. Diantaranya adalah keluarga—dalam hal ini adalah orang tua—, teman dan juga lingkungan di mana ia hidup. Ketiga faktor tersebut sangat bergantung antara satu dengan yang lain dan tidak bisa dipisahkan. Orang tua harus mendidik anaknya dengan memberikan pendidikan yang baik; yaitu pendidikan yang sesuai dengan ajaran agama yang ia anut.

Ia juga harus berteman dengan teman yang baik pula. Dalam artian agar ia tidak terpengaruh dan terbawa oleh teman-teman yang nakal. Lingkungan di mana ia hidup, seharusnya kondusif untuk perkembangan mental dan fisik. Yakni lingkungan yang baik dan terisolasi dari berbagai bentuk kebobrokan mental. Jikalau ketiga faktor tadi sudah memenuhi kewajiban masing-masing, maka kelak anak yang dididik tadi akan menjadi seorang pemuda yang memberikan kontribusi baik bagi keluarga, masyarakat, agama dan bangsanya. Pada akhirnya, terciptalah suatu peradaban indah yang menghiasi bangsanya.

Namun, jikalau para pemuda sudah tidak lagi berpendidikan dan bermoral baik, maka pada akhirnya bukan peradaban indah yang ia ciptakan tetapi kemunduran, keterbelakangan dan kehancuran mental. Kita harus mewaspadai agar hal ini tidak terjadi di Indonesia dengan cara mendidik anak-anak kita sedari kecil dengan memperhatikan tiga faktor yang tadi disebutkan.
Permasalahan pendidikan sudah tak asing lagi bagi kita. Sudah ribuan bahkan jutaan kali kita membicarakan hal ini. Entah dari sisi urgensi, hukum ataupun sejarah. Hal ini takkan pernah usang dimakan zaman. Karena memang selalu saja ada hal baru yang harus dibicarakan mengenai pendidikan. Namun, berapa orang yang peduli dan sudah mengaplikasikannya dalam kehidupan? Apakah kita termasuk orang-orang yang mencintai dan peduli dengan pendidikan?


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 20, 2010 in Uncategorized

 

Biografi tokoh pemuda Indonesia

BIOGRAFI TOKOH PEMUDA INDONESIA

Sutan Syahrir atau juga dieja sebagai Soetan Sjahrir (lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909 – meninggal di Zürich, Swiss, 9 April 1966 pada umur 57 tahun) adalah seorang politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta..

Riwayat

Syahrir lahir dari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah yang berasal dari Koto Gadang, Agam. Ayahnya menjabat sebagai penasehat sultan Deli dan kepala jaksa (landraad) di Medan. Syahrir mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan berbagai buku-buku asing dan ratusan novel Belanda. Malamnya dia mengamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk tamu-tamu kulit putih.

Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.

Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada 20 Februari 1927, Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesie. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada tnggl 28 Oktober 1928.

Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Syahrir, meski sebentar. (Kelak Syahrir menikah kembali dengan Poppy, kakak tertua dari Soedjatmoko dan Miriam Boediardjo).

Dalam tulisan kenangannya, Salomon Tas berkisah perihal Syahrir yang mencari teman-teman radikal, berkelana kian jauh ke kiri, hingga ke kalangan anarkis yang mengharamkan segala hal berbau kapitalisme dengan bertahan hidup secara kolektif -saling berbagi satu sama lain kecuali sikat gigi. Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Syahrir pun bekerja pada Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional.

Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian bengis terhadap organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belanda. Mereka selalu menyerukan agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan. Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik. “Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan,” katanya.

Pengujung tahun 1931, Syahrir meninggalkan kampusnya untuk kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir segera bergabung dalam organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), yang pada Juni 1932 diketuainya. Pengalaman mencemplungkan diri dalam dunia proletar ia praktekkan di tanah air. Syahrir terjun dalam pergerakan buruh. Ia memuat banyak tulisannya tentang perburuhan dalam Daulat Rakyat. Ia juga kerap berbicara perihal pergerakan buruh dalam forum-forum politik. Mei 1933, Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.

Hatta kemudian kembali ke tanah air pada Agustus 1932, segera pula ia memimpin PNI Baru. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Syahrir dalam PNI Baru justru lebih radikal tinimbang Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa. PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup sebanding dengan organisasi Barat. Meski tanpa aksi massa dan agitasi; secara cerdas, lamban namun pasti, PNI Baru mendidik kader-kader pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.Karena takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap, memenjarakan, kemudian membuang Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven Digul. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.

Penculikan Perdana Menteri Sjahrir merupakan peristiwa yang terjadi pada 26 Juni 1946 di Surakarta oleh kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan Kabinet Sjahrir II dengan pemerintah Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh, sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura.

DIPLOMASI SYAHRIR

Setelah kejadian penculikan Syahrir hanya bertugas sebagai Menteri Luar Negeri, tugas sebagai Perdana Menteri diambil alih Presiden Soekarno. Namun pada tanggal 2 Oktober 1946, Presiden menunjuk kembali Syahrir sebagai Perdana Menteri agar dapat melanjutkan Perundingan Linggarjati yang akhirnya ditandatangani pada 15 November 1946.

Tanpa Syahrir, Soekarno bisa terbakar dalam lautan api yang telah ia nyalakan. Sebaliknya, sulit dibantah bahwa tanpa Bung Karno, Syahrir tidak berdaya apa-apa.Syahrir mengakui Soekarno-lah pemimpin republik yang diakui rakyat. Soekarno-lah pemersatu bangsa Indonesia. Karena agitasinya yang menggelora, rakyat di bekas teritori Hindia Belanda mendukung revolusi. Kendati demikian, kekuatan raksasa yang sudah dihidupkan Soekarno harus dibendung untuk kemudian diarahkan secara benar, agar energi itu tak meluap dan justru merusak.

Sebagaimana argumen Bung Hatta bahwa revolusi mesti dikendalikan; tak mungkin revolusi berjalan terlalu lama, revolusi yang mengguncang ‘sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat jika tak dikendalikan maka akan meruntuhkan seluruh ‘bangunan’.Agar Republik Indonesia tak runtuh dan perjuangan rakyat tak menampilkan wajah bengis, Syahrir menjalankan siasatnya. Di pemerintahan, sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), ia menjadi arsitek perubahan Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP sebagai lembaga yang punya fungsi legislatif. RI pun menganut sistem multipartai. Tatanan pemerintahan tersebut sesuai dengan arus politik pasca-Perang Dunia II, yakni kemenangan demokrasi atas fasisme. Kepada massa rakyat, Syahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti-kekerasan.

Dengan siasat-siasat tadi, Syahrir menunjukkan kepada dunia internasional bahwa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis di tengah suasana kebangkitan bangsa-bangsa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-Perang Dunia II. Pihak Belanda kerap melakukan propaganda bahwa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, menculik, dll. Karena itu sah bagi Belanda, melalui NICA, menegakkan tertib sosial sebagaimana kondisi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Mematahkan propaganda itu, Syahrir menginisiasi penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para wartawan luar negeri.

Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II sampai dengan Kabinet Sjahrir III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi. Syahrir tak ingin konyol menghadapi tentara sekutu yang dari segi persenjataan jelas jauh lebih canggih. Diplomasinya kemudian berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk duduk berunding dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara de facto sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI.

Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran aksi militer Belanda pada 21 Juli 1947. Aksi Belanda tersebut justru mengantarkan Indonesia ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah tidak lagi menjabat Perdana Menteri (Kabinet Sjahrir III), Syahrir diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB. Dengan bantuan Biju Patnaik, Syahrir bersama Agus Salim berangkat ke Lake Success, New York melalui New Delhi dan Kairo untuk menggalang dukungan India dan Mesir.

Pada 14 Agustus 1947 Syahrir berpidato di muka sidang Dewan Keamanan PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Van Kleffens. Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya.Van Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu sebagai kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir. Van Kleffens pun ditarik dari posisi sebagai wakil Belanda di PBB menjadi duta besar Belanda di Turki.

Syahrir populer di kalangan para wartawan yang meliput sidang Dewan Keamanan PBB, terutama wartawan-wartawan yang berada di Indonesia semasa revolusi. Beberapa surat kabar menamakan Syahrir sebagai The Smiling Diplomat.

Syahrir mewakili Indonesia di PBB selama 1 bulan, dalam 2 kali sidang. Pimpinan delegasi Indonesia selanjutnya diwakili oleh Lambertus Nicodemus Palar (L.N.) Palar sampai tahun 1950.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 20, 2010 in Uncategorized

 

Peran Strategi Mahasiswa

*Menjadi mahasiswa sejati*

*Oleh: Isa’07

“Manusia yang bijak adalah manusia yang tidak melupakan hal-hal terkecil dalam hidupnya”

Mahasiswa merupakan kelompok minoritas. Begitu juga dengan Para Aktivis hanyalah minoritas dalam populasi mahasiswa. Tetapi mereka memainkan peranan yang profetik. Mereka melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang tidak atau belum dipikirkan oleh masyarakat pada umumnya. Dalam sebuah visi, mereka menginginkan suatu perubahan. Tidak sekedar perubahan-perubahan marginal, tetapi perubahan fundamental serta memikirkan suatu proses transformasi. Sebagai kelompok minoritas terdidik, tentunya mahasiswa memiliki banyak kekuatan di dalam diri yang biasa disebut dengan kekuatan moral (moral force), kekuatan ide (power of idea) dan kekuatan nalar (power of reason).

“Tak ada yang tak berubah selain perubahan itu sendidri”

Wahai kawan-kawanku seperjuangan…! Perlu kita ingat bersama, sejarah Indonesia mencatat bagaimana pentingnya peran mahasiswa baik dalam proses menuju maupun pasca terbentuknya negara Indonesia. Peran mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan sangat menonjol dalam perubahan-perubahan besar di republik ini. Sejarah kemudian mencatat peran mereka dalam pembentukan nasionalisme Indonesia melalui Sumpah Pemuda (Youth Pledge) 1928, penculikan Soekarno-Hatta yang mendorong percepatan proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, peralihan Orde Lama ke Orde Baru pada akhir tahun 1960-an, dan peralihan dari Orde Baru ke Era Reformasi pada tahun 1996.

Sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya. Kehadiran pemudalah yang menciptakan momen sejarah Indonesia masa depan, yakni sejarah terbentuknya sebuah bangsa yang satu dan merdeka dari ketertindasan kolonialisme (Revolusi Pemuda: 1988).

Sebagai ‘kawah candradimuka’ pembentukan para aktivis, organisasi kemahasiswaan memang tidak pernah tunggal dan terpolarisasi berdasarkan keyakinan ideologisnya masing-masing. Tiap-tiap kelompok memiliki sikap, pandangan, pemahaman, dan penilaian yang berbeda-beda tentang sejumlah permasalahan. Mereka juga berbeda dalam cita-cita tentang bentuk masyarakat ideal. Namun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa organisasi-organisasi kemahasiswaan berperan besar khususnya dalam penyiapan dan penyediaan kader-kader penerus bangsa, apapun keyakinan ideologis dan cita-cita ideanya. Mahasiswalah yang berperan sebagai Agent Of Change dan Agent Of Social Control bagi masyarakat dan bangsanya. Berdasarkan background kesejarahan tersebut, setidaknya sejak awal seorang mahasiswa sepatutnya mengetahui peran sebagai mahasiswa dan menanamkan diri untuk menjadi sosok “Mahasiswa Sejati”

Agar kita semua bisa memahami posisi sebagai mahasiswa, paling tidak kita harus mengetahui empat predikat yang senantiasa melekat pada diri mahasiswa: 1. Insan akademis. Dalam konteks ini mahasiswa adalah Insan pembelajar yang haus akan ilmu pengetahuan dan informasi bagi pengembangan rasio dan kepribadiannya. Sekaligus menjadi bagian yang mengusung dunia yang dinaungi nilai-nilai keilmiahan, moralitas, dan independensi. 2. kepemudaan Mahasiswa adalah bagian dari pemuda dan pemuda adalah pemilik ‘darah muda’, yang mencari bentuk jati diri dan menterjemahkan dunianya terkadang tidak secara rasional melainkan emosional. Dalam kemudaannya, mahasiswa adalah insan yang menginginkan perubahan, progresifitas, dan menciptakan dunianya sendiri yang berada dari dunia buatan orang tua. 3. Youth Of The Nation Sebagai youth of the nation, Mahasiswa merupakan potret masa depan bangsa. Sudah sewajarnya bila suatu bangsa banyak menaruh harapan pada komunitas pemuda. Sebagai youth of the nation, mahasiswa harus mempelajari permasalahan, dan keresahan bangsanya. Memahami kekuatan, kelemahan, ancaman, dan peluang (SWOT) yang dimiliki bangsanya. Lebih penting lagi, menjadi bagian problem solver, bukan beban (liability) bagi bangsa khususnya di lingkungan kampus. 4. Elit intelektual Tidak sampai dari lima persen pemuda Indonesia mampu mengenyam pendidikan tinggi. Oleh karena itu, mahasiswa mau tidak mau terbentuk menjadi ‘elit’ karena jumlahnya yang sedikit dan memperoleh kesempatan istimewa menempuh pendidikan tinggi. Sebagai elit intelektual, mahasiswa sudah sepatutnya menjadi ‘kompas’ yang menunjukkan arah bangsa. Menjadi ‘lampu pijar’ yang menerangi lingkungan sekitarnya. Jangan sampai mahasiswa hanya bisa menutup mata terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi baik di tataran internal maupun eksternal kampus. sebagai tambahan pemahaman wawasan dan pengetahuan, akhirnya tiada harapan yang ingin kita capai sebagai mahasiswa, selain bagaimana kita dapat membaca dan dapat memberikan yang terbaik bagi perubahan. Ingat, proses adalah hukum wajib untuk dilakukan. Dalam proses terdapat ketekunan, kesabaran dan semangat yang harus menggebu. Karena tidak ada keberhasilan yang hampa proses, apa lagi yang gratis.

Hidup Mahasiswa…!!!

*ketua Bem FKIP UNRAM

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 19, 2010 in Uncategorized

 

Info Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM)

Dengan ini kami sampaikan bahwa batas pengumpulan proposal Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) tahun 2010 pd tgl 25 oktober 2010.
sehubungan dengan hal itu, kami informasikan kepada seluruh mahasiswa bahwa proposal yang telah dibuat dapat diserahkan langsung kebagian kemahasiswaan UNRAM selambat-lambatya pada tanggal 23 oktober 2010 untuk diproses lebih lanjut.

an. Rektor
ttd
Drs. H Muhibbah Nasruddin, M.Sc

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 19, 2010 in Uncategorized

 

Info GEMA UNRAM

Diumumkan bagi semua mahasiswa unram yang memiliki bakat dalam berwirausaha agar mengikuti sosialisasi program GEMA (Gerakan Enterpreunership Mahasiswa) UNRAM pada hari selasa jam 08.00 WITA di Arena Budaya UNRAM.Gratis…(sumber,joko jumadi,SH/ketua pan.GEMA UNRAM)..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 17, 2010 in Uncategorized

 

judul skripsi dan tesis

1. Analisa Swot Dalam Rangka Meningkatkan Kuantitas Dan Kualitas Mahasiswa Fkip Usd Yogyakarta –
2. Meningkatkan Jumlah Mahasiswa Dengan Membuka Program Studi Baru Di Stpmd Apmd Yogyakarta –
3. Kesiapan Smun Sumberejo Bojonegoro Dalam Meningkatkan Mutu Kelulusan Program Kelulusan Program Ipb, Ipa, Sips –
4. Analisis Kesiapan Ikip Pgri Tuban Dalam Meningkatkan Jumlah Lulusan –
5. Analisis Upaya Pemasaran ”Sti Syariah” Yogyakarta Dalam Rangka Peningkatan Jumlah Mahasiswa Baru Tahun 2001 –
6. Upaya Optimalisasi Fungsi-Fungsi Baku Guna Meningkatkan Kualitas Lulusan Sd Kaliurang I –
7. Mengoptimalkan Jumlah Sltp Terbuka Di Jatim (Sebuah Tinjauan Tentang Proyek Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Th)
8. Evaluasi Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Th Di Depdikbud Kab. Pacitan –
9. Pengetahuan Dasar, Kemampuan Kebahasaan Dan Kompentensi Membaca Dan Menulis Bahasa Arab Pada Siswa Mtsn Salatiga –
10. Manajemen Pendidikan Kooperatif Model Jigsaw Di Smp Full Day School –
11. Implementasi Sistem Manajemen Mutu Iso 9001:2000 Pada Unit Pendidikan Sekolah Akademi Teknik Mesin Industri (Atmi) Surakarta – -
12. Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah Untuk Meningkatkan Mutu Belajar Siswa Di Sman I Yogyakarta –
13. Pelayanan Yang Berorientasi Pelanggan Di Sma Kota Pekanbatu –
14. Upaya Peningkatan Kompetensi Menulis Wacana Eksposisi Dan Argumentasi Siswa Kelas Ii Sltpn I Pleret Dengan Metode Pembelajaran Kontekstual -
15. Evaluasi Program Kelompok Berlatih Olahraga (Kbo) Di Skb Aceh Besar Nad –
16. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Berwirausaha Siswa Kelas Ii Smkm Bidang Keahlian Bisnis Manajemen Kota Yk –
17. Pluralisme Agama, Pasca Modernisme Dan Pendidikan Agama Di Indonesia (Telaah Buku Teks Pendidikan Agama Islam Smu) –
18. Pendidikan Nilai-Nilai Agama Islam Dalam Keluarga Ibu Bekerja Di Kota Samarinda -
19. Sistem Pendidikan Nilai Agama Dalam Proses Pembelajaran Di Madrasah Aliyah Wakhid Hasyim Gaten Sleman Yk (Tinjauan Tentang Guru Dalam Interaksi Edukatif)
20. Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Umum (Tinjauan Kasus Pgsd Ikip Negeri Gorongtalo) –
21. Persepsi Suku Bajali Terhadap Pendidikan Dan Tata Nilai Dalam Perubahan Sosial Budaya Di Desa Rampa Kab. Kotabaru Kalsel –
22. Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Buku Teks Bidang Studi Ips Dan Dampaknya Terhadap Siswa Sltpn Di Samarinda –
23. Nasionalisme Dalam Pembelajaran Ips Sejarah Di Smu 8 Yogyakarta –
24. Pembelajaran Sejarah Dan Pengembangan Nilai Nasionalisme Siswa Smun I PelaihariKab. Tanah Laut Kalsel –
25. Penginkatan Kualitas Pembelajaran Ips Dengan Model Kooperatif Di Sltpn I Alas Sumbawa Nutt –
26. Kemampuan Memahami Unsur Serapan Bahasa Asing Siswa Kelas Ii Smun Di Kab. Kulon Progo Diy –
27. Evaluasi Pelaksanaan Program Karang Taruna Dalam Pembinaan Remaja Di Kab. Badung Bali –
28. Prestasi Belajar Siswa Dalam Bidang Studi Ips Di Madrasah Tsanawiyah Se-Kabupaten Brebes Prpo. Jateng –
29. Faktor-Faktor Determinan Kompetensi Akuntansi Siswa Pendidikan Kursus Akuntansi Di Diy –
30. Perilaku Kewiraswastaan Siswa Pada Sltp/Mts Di Kota Banjarbaru –
31. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Kud Tuntung Padang Di Barito Kuala –
32. Kemampuan Siswa Memahami Konsep-Konsep Ekonomi Di Smun Kota Banda Aceh –
33. Nilai-Nilai Upacara Baayun Anak Di Desa Banua Halat Kab. Tapin Kalsel –
34. Perilaku Wanita Dalam Cerita Rakyat Di Lombok –
35. Diversifikasi Mata Pencaharian Rumah Tangga Dan Sumbangannya Terhadap Pendapatan Di Banuhampu Sei Puar Kab. Agam Sumbar –
36. Kualitas Pelayanan Pendidikan Dan Prestasi Belajar Mahasiswa Pada Fp-Ips Ikip Negeri Singaraja Bali –
37. Evaluasi Pelaksanaan Program Sltp Terbuka Di Kab. Hulu Utara –
38. Sikap Demokratis Siswa Smu Di Yogyakarta –
39. Penanaman Nilai Estettik : Pendidikan Seni Rupa Sd Simpang Baru Dan Karang Bukong Kotamadya Semarang -
40. Perbedaan Ketrampilan Berbahasa Indonesia Produktif Diantara Guru-Guru Sd Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan -
41. Koordinasi Penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun Di Jabar (Sk : Dati Ii Kab. Bandung Tentang Koordinasi Antar Instansi Terkait)
42. Evaluasi Iklim Akademik Di Smu Muhammadiyah Gombong Kab. Kebumen –
43. Keefektifan Program Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika Dan Sejarah Tingkat Smu Di Kab. Tegal –
44. Peningkatan Keefektifan Pembelajaran Menulis Di Kelas Ii Sdn Ngaglik Sardonoharjo Dengan Menggunakan Pendekatan Proses Dan Media Gambar –
45. Kemampuan Guru Sltpn Dalam Mengevaluasi Hasil Belajar Di Kab. Tapin Kalsel –
46. Akulturasi Untuk Kebudayaan Siswa Sltpn Ii Banjarmasin Kec. Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin Kalsel –
47. Analisa Kebutuhan Pendidikan Dan Pelatihan Bagi Pembantu Rumah Tangga (Prt) (Sk : Di Kelurahan Baciro Yk) –
48. Evaluasi Sistem Seleksi Masuk Iain Suka Yogyakarta –
49. Penggunaan Buku Paket Stm Jurusan Bangunan Program Studi Bangunan Gedung –
50. Partisipasi Dunia Industri Dalam Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (Psg) Untuk Siswa Smk Kelompok Pariwisata Di Diy –
51. Budaya Sekolah Di Sltpn I Banjarmasin Kec. Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin –
52. Kesiapan Kerja Siswa Smkn I Marahaban Kab. Barito Kuala –
53. Efektivitas Program Musyawarah Guru Mata Pelajaran (Mgmp) Matematika Tingkat Sltp Di Kab. Barito Kuala –
54. Efektivitas Diklat Struktural Adum Di Era Otonomi Daerah Dinas Pendidikan Prop. Kalsel –
55. Persepsi Efektivitas Diklat Guru Dalam Meningkatkan Kompetensi Mengajar Ipa Biologi Sltpn Di Kota Banjarmasin –
56. Sikap Kewirausahaan Siswa Bidang Keahlian Tata Busana Di Smkn 6 Yk –
57. Pola Menu Makanan Keluarga (Studi Di Daerah Pedesaan Penerima Dana Idt Kab. Dati Ii Gunung Kidul) –
58. Nilai Kerja Karyawan Antara Lulusan Stm Dan Sma Pada Industri Susu Di Yogyakarta
59. Kinerja Karyawan Pada Unit Pelaksana Teknis Kebudayaan Daerah Kalsel –
60. Tingkat Aspirasi Pendidikan Suku Bajo Dan Faktor-Faktor Determinannya (Sk : Masyarakat Suku Bajo Di Kab. Buton Sultra) –
61. Evaluasi Pelaksanaan Manajemen Pendidikan Pada Lembaga Pendidikan Primagama Di Diy –
62. Efektivitas Penyelenggaraan Ebta Sltpn Di Kota Banjarmasin –
63. Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah Di Smun I Tenggarong –
64. Optimalisasi Fungsi Manajerial Kepala Sekolah Dalam Menyongsong Manajemen Berbasis Sekolah Di Kota Banjarmasin (Sk : Sltpn 6 Dan Sltp Sabilal Muhtadin Banjarmasin) –
65. Manajemen Pembelajaran Kerajinan Tangan Dan Kesenian Melalui Penelitian Tindakan Kelas Di Sltpn 2 Sungai Tabuk Kab. Banjar –
66. Implementasi Kebijakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun Di Kab. Dati Ii Ende (Sk : Kab. Dati Ii Ende) –
67. Studi Banding Impelementasi Kebijakan Pendidikan Sistem Ganda Antara Smkn Dan Smk Swasta –
68. Pengaruh Aksesbilitas Dan Sosial Ekonomi Terhadap Transisi Pendidikan Sd – Sltp Di Kec. Ngarsoyoso Dan Persebaran Gedung Sltp Di Kab. Karanganyar –
69. Analisa Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kinerja Dosen Pada ”Iak” DepkesriProp Jateng –
70. Pengaruh Aktivitas Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kepuasan Kerja Guru Di Sltpn Kab. Banjar Kalsel –
71. The Life And Death Of The Female Character In The First Three Of Pramoedya Ananta Toer’s Buru Tetralogy : This Earth Of Mankind, Child Of All Nation, And Foot Steps
72. Program Latihan Kebugaran Jalan Kaki Dan Aerobic Dance Untuk Meningkatkan Kebugaran Kelompok Manula –
73. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Kepala Sekolah Sltp Di Samarinda –
74. Peran Kepala Sekolah Dalam Manajemen Pembelajaran Di Sd Syuhada Yogya –
75. Pengaruh Aktivitas Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kepuasan Kerja Guru Di Sltpn Kab. Banjar Kalsel
76. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Supervisi Dan Partisipasi Komite Sekolah Kinerja Sekolah –
77. Pengaruh Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Persepsi Guru, Motivasi Berprestasi Dan Kompensasi Terhadap Kedisiplinan Guru Sd (Sk : Di Kec. Sleman Kab. Sleman Diy) –
78. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Etos Kerja Guru Menurut Persepsi Guru Sltpn Kab. Gunung Kidul –
79. Pengaruh Pengalaman Guru, Motivasi Guru Dan Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru Sd Di Tenggarong Kab. Kutai Kertanegara Kaltim –
80. Pengaruh Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, Gaya Kepemimpinan Serta Pelatihan Dan Pengembangan Ketenagakerjaan Terhadap Produktivitas Kerja Pengelolaan Pkbm –
81. Kompetensi Guru Ips Sltp Dalam Pembelajaran Di Kab. Banjar –
82. Kreativitas Guru Dalam Proses Pembelajaran Ppkn Sltpn Di Kota Samarinda
83. Pengaruh Pendidikan Agama Dalam Keluarga, Sekolah Dan Masyarakat Terhadap Pengalaman Nilai-Nilai Islami Bagi Siswa Mtsn Model Samarindaa –
84. Hubungan Karakteristik Dosen Dengan Kepuasan Mahasiswa Dalam Proses Belajar Mengajar Di Akper Pemerintah Kab. Sumedang Th 2002 –
85. Analisis Ekspektasi Dan Persepsi Mahasiswa Terhadap Mutu Pendidikan Di Akademi Farmasi Depkes Kupang –
86. Persepsi Guru Terhadap Kualitas Penyuluhan Kesehatan Oleh Petugas Puskesma Bagi Murid Sd Di Kec Depok Sleman Diy –
87. Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Guru-Guru Di Sltpn Kab. Sragen –
88. Peningkatan Kualitas Pendidikan Di Sdn Melalui Optimalisasi Kinerja Fungsi-Fungsi Baku Di Kab. Rembang –
89. Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Di Smun 5 Yogyakarta –
90. Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Di Smkn 2 Wonosari –
91. Strategi Meningkatkan Kualitas Pendidikan Di Sdn Rondo Kuning Ii Kec. Kraksaan Kab. Probolinggo –
92. Upaya Meningkatan Mutu Pendidikan Di Smk Murni 5 Surakarta –
93. Kesiapan Atk Dalam Meningkatkan Jumlah Lulusan Ahli Madya Jurusan Teknologi Pengolahan Kulit -
94. Strategi Program Sd Dalam Rangka Peningkatan Sdn Baleharjo Ii Kec. Pacitan Kab. Dati Ii Pacitan –
95. Upaya Meningkatkan Tipe B Ke Tipe A Dengan Penambahan Daya Tampung Pada Sltp I Bangil –
96. Meningkatkan Jumlah Murid Sltp Majapahit I Jetis Kab. Mojokerto –
97. Strategi Meningkatkan Jumlah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo Th 2002- 2005 –
98. Hubungan Antara Budaya Organisasi Dan Produktivitas Kerja Karyawan Administra
99. Upaya Peningkatan Ipk Mahasiswa Stt Berita Kitab Wahyu Internasional Dalam Rangka Memenuhi Kebutuhan Tenaga Rohaniawan –
100. Strategi Peningkatan Kuantitas Lulusan Mahasiswa Stt Berita Kitab Wahyu Internasional –
101. Strategi Bersaing Primagama Di Tengah Industri Jasa Bimbingan Belajar (Sk : Primagama Surabaya) –
102. Pengelolaan Unit Produksi Di Smkn Prop. Diy –
103. Rekonstruksi Konsep Dasar Ilmu Upaya Mengintegrasikan Ilmu Dalam Pendidikan Islam (Suatu Telaah Epistimologi) –
104. Epistimologi Hukum Islam Muhammad Abduh –
105. Nilai-Nilai Islam Dalam Tradisi Gadai Pada Masyarakat Banjar Di Kotamadya Banjarmasin –
106. Evaluasi Pendidikan Wirausaha Di Smk Ti Kodya Semarang –
107. Upaya Meningkatkan Keefektifan Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Kreativitas Guru Dalam Merancang Tugas-Tuggs Komunikatif Di Smu 2 Wonosari –
108. Evaluasi Perencanaan Pengajaran Pendidikan Moral Pancasila Di Smu –
109. Persepsi Mahasiswa Terhadap Kompetensi Mengajar Dosen Poltek Usu Medan –
110. Variasi Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Pendidikan Anak Di Distrik Fak-Fak Prop Irian Jaya –
111. Kontribusi Pembinaan Mental Terhadap Kesadaran Moral Narapidana Di LpWirogunan Yogyakarta –
112. Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Kantor Pemda Kab. Dompu Ntb –
113. Sistem Pengeloaan Program Tata Rias Di Aks “Akk” Yk –
114. Profesionalisme Guru Dalam Proses Pembelajaran Bidang Studi Ips Di Sdn Inti Bantul Timur, Trirenggo Kab. Bantul –
115. Studi Penelusuran Lulusan Smk I Sedayu Bantul –
116. Efektivitas Pelaksanaan Manajemen Pendidikan Di Sman I Depok, Sman I Gamping Dan Sman I Cangkringan Kab. Sleman Pasca Otonomi Daerah –
117. Pengorganisasian Tugas Di Smpn I Yk –
118. Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Jawa Melalui Kreativitas Guru Dalam Pembelajaran Dengan Pendekatan Intelektual –
119. Impelementasi Pengawasan Sekolah Dalam Rankga School Based Management Di Era Otonomi Daerah Di Kota Surabaya –
120. Pengelolaan Siswa Nakal Di Smpn 4 Tempel Kab. Sleman –
121. Peran Tuan Guru Dalam Pembangunan Masyarakat Desa –
122. Analisis Kebutuhan Pendidikan Dan Pelatihan Bagi Pembantu Rumah Tangga (Sk : Di Kel. Baciro Dan Kel. Klitren, Kotamadya Yk) –
123. Kinerja Dosen Ditinjau Dari Segi Pembinaan Sdm Di Akper Depkes Ternate –
124. Upaya Meningkatkan Ipk Kelulusan Upn ”Veteran” Yk Dalam Menghadapi Periode Lima Tahun Mendatang –
125. Strategi Meningkatkan Jumlah Mahasiswa Ump Tahun 2002-2005 –
126. Upaya Peningkatan Nem Siswa Smun 7 Yk –
127. Upaya Optimalisasi Fungsi-Fungsi Baku Guna Meningkatkan Kualitas Lulusan Sd Kaliurang –
128. Pengelolaan Layanan Madrasah Aliyah Ali Maksum Bantul Dalam Perspektif Total Quality Management (Tqm) (Tinjauan Terhadap Pelanggan Internal) –
129. Kultur Sekolah Dan Kinerja Siswa Di Man Iii Yogyakarta –
130. Evaluasi Pelaksanaan Program Kelompok Berlatih Olahraga Di Skb Pelaihari Kalsel
131. Evaluasi Pelaksanaan Program Paket C Di Kab. Karanganyar Prop. Jateng –
132. Implementasi Konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Di Sman 8 Yogyakarta
133. Peran Kepala Sekolah Dalam Manajemen Pembelajaran Di Sd Syuhada Yogya–
134. Optimalisasi Peran Komite Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Di Sman I Gerung Lombok Barat –

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 15, 2010 in Uncategorized

 

Nilai Sebuah Kegagalan

Muhammad Isa IhromiBagi kebanyakan orang kegagalan adalah sesuatu yg buruk. Apakah benar demikian? Untuk pikiran yang dangkal, hal itu memang benar. Namun apabila kita memikirkannya lebih dalam lagi, kegagalan tidak selamanya merupakan bencana. Bisa jadi, dengan kegagalan Tuhan mengingatkan kita bahwa kapasitas kita belum cukup untuk menerima kesuksesan. Barangkali Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa masih banyak hal yang harus kita pelajari, yang mana kalau kita sukses padahal kemampuan kita masih dangkal, kita akan terjatuh lebih dalam lagi. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang ahli investasi dari Amerika bahwa ‘orang bodoh dengan uang banyak adalah suatu fenomena yang sangat menarik’. Apakah yang akan terjadi bila orang bodoh tiba-tiba mendapatkan uang banyak? Jelas, dia akan menghabiskannya tanpa perhitungan hanya untuk barang-barang konsumtif dan kembali mengalami kesulitan keuangan karena kemungkinan besar barang-barang konsumtif tersebut akan dia beli dengan cara kredit. Apakah dia pantas disebut orang kaya? Jelas tidak, orang yang betul-betul kaya tahu betul apa yang akan dia perbuat dengan uangnya dan akan mengembangkannya lebih banyak lagi.
Poin utamanya adalah kesuksesan yang kita terima akan selalu sesuai dengan kapasitas diri kita. Jika kita menerima kesuksesan di luar kapasitas diri, malah kita akan jatuh lebih dalam dan akan mengalami kegagalan yang lebih parah. Maka dari itu, jangan terlalu mendramatisir kegagalan. Bisa jadi dengan kegagalan Tuhan menyelamatkan kita dari kegagalan yang lebih parah. Yang perlu kita fokuskan adalah bagaimana caranya agar kita bisa berkembang secara pribadi untuk layak menjadi orang yang betul-betul sukses sehingga kesuksesan kita bisa bertahan lama dan semakin berkembang.

semangat kawan-kawan…!!!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 14, 2010 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.